0

penularan dan pencegahan penyakit kusta



Cara penularan yang pasti belum diketahui, tetapi menurut sebagian besar para ahli adalah melalui :
Timbulnnya penyakit kusta pada seseorang tergantung pada beberapa faktor yaitu :
a.Sumber-sumber penularan, adalah penderita type MB yang belum diobati atau tidak teratur berobat.
b.Kuman kusta : Kuman kusta yang utuh (solit)
c.Daya tahan tubuh

Pemeriksaan Klinis
a.Persiapan
1) Tempat (tempat pemeriksaan harus cukup terang, sebaiknnya di luar rumah )
2) Waktu pemeriksaan (pemeriksaan dilakukan pada siang hari dengan penerangan sinar matahari)
3) Yang diperiksa (diberikan penjelasan kepada yang akan diperiksa dan keluarga tentang cara pemeriksaan)
b.Pelaksanaan pemeriksaan :
1) pemeriksaan pandang
Pemeriksaan dimulai dengan orang yang diperiksa berhadapan dengan petugas dan dimulai dari kepala (muka, cuping telinga kiri, cuping telinga kanan, pipi kanan, hidung, mulut, dagu, leher bagian depan). Penderita diminta memejamkan mata, untuk menggerakan mulut, bersiul, dan tertawa untuk mengetahui fungsi syaraf wajah. Semua kelainan kulit diperhatikan, seperti adanya macula, nodul, penebalan kulit dan kehilangan rambut.

2) Pemeriksaan rasa raba pada kelaianan kulit
kapas, jarum pentul (rasa nyeri), air panas atau dingin dalam tabung reaksi (rasa suhu). Dengan cara dioles dari bagian tengah bercak ke tepi. Prinsip pada pemeriksaan rasa raba adalah pasien harus memejamkan mata, ini supaya pasien tidak berbohong pada petugas. Jadi data yang diperoleh pun menjadi lebih valid.
3) Pemeriksaan syaraf tepi dan fungsinnya
Raba syaraf tepi : nervus ulnaris, nervus radialis, nervus aurikularis magnus, nervus poplitea. Pentingnya mencacat apakah syaraf tepi tersebut nyeri tekan atau tidak adalah dengan memperhatikan raut muka penderita apakah kesakitan atau tidak pada waktu diraba.
4) Pemeriksaan pembantu
a. Tes keringat dengan pensil tinta, pada lesi akan hilang sedang pada kulit normal ada bekas tinta (tes Gunawan).
b. Pemeriksaan histopatologi dan tes lepromin, untuk klasifikasi penyakit.
c. Pemeriksaan bakteriologi : untuk menentukan indek bakteriologi (IB) dan indek morfologi (IM). Pemeriksaan penting untuk menilai hasil pengobatan dan menentukan adanya resistensi pengobatan. Beberapa ketentuan lokasi pengambilan sediaan (sediaan diambil dari kelainan kulit yang paling aktif, kulit muka lebih baik dihindari karena alasan kosmetik, pada pemeriksaan pengulangan dilakukan pada lokasi kelaianan kulit yang sama, bila perlu ditambah dengan lesi kulit yang baru).


Pengobatan
MDT adalah singkatan dari Multi Drug Therapy yang artinya pengobatan kombinasi. Jumlah obat dan lamanya pengobatan pada penderita kusta tergantung dari klasifikasi penderita, bila ragu-ragu penderita digolongkan tipe PB atau MB maka penderita diobati sebagai kusta tipe MB.
1) Tujuan pengobatan :
a) Menyembuhkan penderita kusta dan mencegah timbulnya atau bertambahnya cacat.
b) Memutuskan mata rantai penularan dari penderita kusta, terutama tipe yang menular (MB) ke orang lain.
c) Mencegah timbulnya resistensi.

2) Prinsip pengobatan :
a) Sedini mungkin, pada penderita PB yang berobat dini dan teratur akan cepat sembuh tanpa menimbulkan cacat. Akan tetapi bagi penderita yang sudah dalam keadaan cacat pengobatan hanya dapat mencegah cacat yang lebih parah.
b) Secara teratur, bila penderita tidak makan obat secara teratur, maka maka kuman kusta dapat menjadi aktif kembali dan memberikan gejala-gejala baru pada kulit dan syaraf.

3. Obat-obat yang digunakan :
a) DDS (Dapsone) : Diamino Diphenyl Sulfone
1) Bentuk tablet, warna putih, takaran 50 mg / tablet dan 100 mg / tablet.
2) Sifat : bakteriostatik, menghalanngi atau menghambat pertumbuhan kuman kusta.
3) Dosis : Dewasa 100 mg / hari, anak-anak 1 mg /kg BB / hari.
4) Efek samping : jarang terjadi.
b) Lamprene (B663) : Clorfazimine
1) Bentuk kapsul, warna coklat, takaran 50 mg / kapsul dan 100 mg / kapsul.
2) Sifat : Bakteriostatik, menghambat pertumbuhan kuman kusta dan anti reaksi (menekan reaksi)

3) Efek samping :
(1) Warna kulit terutama pada infiltrasi berwarna ungu sampai kehitam-hitaman
(2) Gangguan pencernaan : nyeri pada lambung.
c) Rifampicin
1) Bentuk kapsul, takaran 150 mg, 300 mg dan 600 mg
2) Sifat : Bakteriosid (mematikan kuman)
3) Efek samping : dapat menimbulkan kerusakan pada hati dan ginjal, flu sindrom, badan panas, beringus, lemah., akan hilang bila diberi obat simtomatis.
4) Dosis : Untuk anak-anak 10-15 mg / kg BB / hari.
d) Prednison
Diberikan untuk menghadapi reaksi.
e) Vitamin A
Digunakan untuk menyehatkan kulit yang bersisik (ichtiosis)

Pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah untuk pencegahan, haruslah didasarkan pada data / keterangan yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan / penelitian epidemiologis. Ada tiga tingkatan pencegahan penyakit menular secara umum yakni :
1) Pencegahan tinngkat pertama
Sasaran ditujukkan pada faktor penyebab, lingkungnan serta faktor pejamu.
a) Sasaran yang ditujukan pada faktor penyebab yang bertujuanuntuk mengurangi penyebab atau menurunkan penngaruh penyebab serendah mungkin dengan usaha antara lain : desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi yang bertujuan untuk menghilangnkan mikro-organisme penyebab penyakit, menghilangkan sumber penularan maupun memutuskan rantai penularan, disamping karantina dan isolasi yang juga dalam rangka memutus rantai penularan, serta mengurangi / menghindari perilaku yang dapat meningkatkan resiko perorangan dan masyarakat.
b) Mengatasi / modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik seperti peningkatan air bersih, sanitasi lingkungan dan perumahan serta bentuk pemukiman lainnya.
c) Meningkatkan daya tahan pejamu melalui perbaikan status gizi, status kesehatan umum dan kualitas hidup penduduk, pemberian imunisasi serta berbagai bentuk pencegahan khusus lainnya serta usaha menghindari pengaruh faktor keturunan dan peningkatan ketahanan fisik melalui olah raga kesehatan.
2) Pencegahan tingkat kedua
Sasaran pencegahan ditujukan pada mereka yang menderita atau yang dianggap menderita (suspek) atau yang terancam akan menderita (masa tunas). Adapun tujuan tingkat kedua ini meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah, serta untuk segera mencegah proses penyakit lebih lanjut serta mencegah terjadinya komplikasi, antara lain :
a) Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui peningkatan uasaha surveillans penyakit tertentu, pemeriksaan berkala serta pemeriksaan kelompok tertentu (calon pegawai, ABRI, mahasiswa dan lain sebagainya), penyaringan (screening) untuk penyakit tertentu secara umum dalam masyarakat, serta pengobatan dan perwatan yang efektif.
b) Pemberian chemoprophylaxis yang terutama bagi mereka yang dicurigai berada pada proses prepatogenesis dan patogenesis penyakit tertentu.

3) Pencegahan tingkat ketiga
Sasaran pencegahan adalah penderita yang menderita penyakit tertentu dengan tujuan mencegah jangan sampai mengalami cacat atau kelainan permanent, mencegah bertambah parahnya suatu penyakkit atau mencegah kelainan akibat penyakit tersebut. Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinnnya komplikasi dari penyembuhan suatu penyakit tertentu. Rehabilitasi adalah usaha pengembalian fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin.
b. Pencegahan Penularan Penyakit Kusta
Cara penularannya saja belum diketahui pasti, hanya berdasarkan anggapan yang klasik ialah melalui kontak langsung antar kulit yang dan erat. Anggapan kedua ialah secara inhalasi, sebab M. leprae masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet
Tapi cara penularan menurut Ditjen PPM dan PLP dan Dinkes RI antara lain : tergantung dari sumber penularannya yaitu kusta tipe multi basiler (MB), kuman kusta yang solit, dan daya tahan tubuh.
Kemudian yang mempengaruhi timbulnya penyakit kusta antara lain :
1. Sosial ekonomi (dimana kusta banyak terdapat di negara berkembang dan golongan sosial ekonomi lemah)
2. Dan juga dari faktor lingkungan yang kurang memenuhi kebersihan
Basil ini dapat ditemukan dimana-mana, misalnya didalam tanah, air, udara, dan pada manusia terdapat dipermukaan kulit, rongga hidung, dan tenggorokan. Basil ini dapat berkembang biak didalam otot polos / otot bergaris sehingga dapat ditemukan pada otot erector pili, otot dan endotel kapiler, otot di skrotum, dan otot iris mata. Kuman dapat ditemukan di kulit, folikel rambut, kelenjar keringat, dan air susu ibu, jarang didapat dalam urine. Spuntum dapat banyak mengandung M.leprae yang berasal dari traktus respiratorius atas
Menurut kader kusta di Dinkes Ponorogo, cara pencegahan penularan kusta yang utama adalah melalui pengobatan. Sedang menurut kader kusta di Puskesmas Balong Ponorogo, selain pengobatan adalah dengan menghindari atau mengurangi kontak fisik dan peningkatan dari personal hygiene.
Maka jelaslah dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa pencegahan penularan kusta adalah :
a. Pengobatan sejak dini dan teratur.
b. Hindari atau kurangi kontak fisik yang lama.
c. Meningkatkan personal hygiene atau kebersihan diri dan lingkungan.
d. Meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh, dengan olah raga dan peningkatan pemenuhan nutrisi.
e. Jangan bertukar pakaian dengan penderita, basil dapat ditemukan pada kelenjar keringat.
f. Sendirikan peralatan mandi dan makan pasien.
g. Dan khususnya bagi penderita kusta tipe MB jangan meludah sembarangan, karena basil ini masih bisa hidup beberapa hari dalam droplet.
Meskipun hal-hal diatas tidak bisa menjamin tidak akan tertular kuman mycobacterium leprae, dikarenakan penyebab pasti dari penularan kusta belum diketahui secara pasti. Akan tetapi dengan cara-cara diatas diharapkan angka penularan kusta dapat diperkecil / dikurangi.

0

patofiisiologi penyakit kusta



Kuman kusta masuk ke tubuh lalu tinggal ditempat predileksinya yaitu sel schwan pada syaraf tepi dan daerah yang relatif dingin yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit, setelah itu pindah ke sel lain. Perkembangan penyakit kusta tergantung pada kerentanan seseorang. Setelah masa tunas terlampui tergantung pada derajat system imunitas pasien, kalau system imunitas tinggi, penyakit berkembang kearah Lepromatosa oleh karena itu penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologik

0

Pengertian Penyakit Kusta Pada Manusia

Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, penyebabnya adalah Mycobacterium Leprae yang intra seluler obligat.

Penyakit kusta adalah suatu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh sejenis kuman yang diberi nama mycobacterium leprae, yang ditemukan oleh Armauer Hansen pada tahun 1873 dan terutama menyerang syaraf tepi yang dapat menyebar ke kulit dan juga kejaringan yang lainnya, seperti pada mata, selaput lendir salurran pernafasan bagian atas, otot, tulang, dan testis.

Spuntum dapat banyak mengandung mycobacterium leprae yang berasal dari traktus respiratorius atas. Kusta bukan penyakit keturunan, kuman dapat ditemukan di kulit, folikel rambut, kelenjar keringat dan air susu ibu, jarang ditemukan dalam urine

ada empat klasifikasi, yaitu :

1) Klasifikasi Internasional

a. Inderteminade (I)

b. Tuberkuloid (T)

c. Bordeline (B)

d. Lepromatosa (L)

2) Klasifikasi menurut Ridley-Jopling (1962)

a. Tuberkuloid tuberkuloid (TT)

b. Bordeline tuberkuloid (BT)

c. Bordeline borderline (BB)

d. Bordeline lepromatosa (BL)

3) Klasifikasi menurut WHO (1981)

a. Pausi Basiler / kusta tipe kering (PB)

b. Multi Basiler / kusta tipe basah (MB)

4) Klasifikasi menurut Puskesmas

a. Pausi Basiler / kusta tipe kering (PB)

b. Multi Basiler / kusta tipe basah (MB)

Lepra menyebar luas keseluruh dunia, dengan sebagian besar kasus terdapat di daerah tropis dan sub tropis, tetapi dengan adanya perpindahan penduduk maka penyakit ini bisa menyerang dimana saja. Sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah yang disebabkan oleh kebiasaan hidup yang tidak sehat. Kusta dapat menular melalui sentuhan langsung dengan penderita. Untuk itu keluarga sangat berpengaruh dalam memberikan dorongan ataupun dukungan untuk melakukan pencegahan penularan salah satunya dengan cara pengobatan sejak dini dan teratur sehingga dapat sembuh tanpa cacat. Jika keluarga tidak memiliki sikap dalam pencegahan penularan penyakit kusta, maka kemungkinan besar keadaan pasien akan menjadi lebih buruk, dan kemungkinan penularan akan lebih besar.

Sampai saat ini Indonesia masih menyandang sebagai negara dengan penderita kusta terbanyak ketiga di dunia setelah India dan Brasil. Pada tahun 2006, angka kusta sendiri menurun menjadi 18.300 kasus baru, dari tahun sebelumnya yang dilaporkan mencapai 19.696 kasus diseluruh Indonesia. Sejauh ini 17 provinsi di Indonesia, masih tergolong sebagai daerah endemis (terpapar) kusta. Kebanyakan terdapat di daerah Indonesia timur, seperti Papua, Kalimantan, Halmahera, Sulawesi selatan, dan yang terbanyak Jawa timur. Dengan kata lain pada tahun 2006 telah ditemukan 6.317 kasus kusta baru di wilayah Jatim. Menurut data Dinas kesehatan Ponorogo sampai tahun 2006 didapatkan angka penderita kusta sebanyak 62 penderita. Angka penderita jenis penderita Multi Basiler (MB) sebanyak 58 orang dan jenis penderita Pausi Basiler (PB) sebanyak 4 orang. Kemudian pada tahun 2007 ditemukan lagi kasus baru sebanyak 6 orang ,yang semuanya adalah jenis Multi Basiler (MB). Setelah dilakukan studi pendahuluan tentang hubungan motivasi dengan sikap keluarga dalam pencegahan penularan penyakit kusta pada 10 responden didapatkan data sebagai berikut, 30% memiliki motivasi baik, 70% memiliki buruk, dan 50% memiliki sikap buruk, serta 50% memiliki sikap baik.

Penyakit kusta timbul karena masyarakat kurang memperhatikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, sehingga mengakibatkan masyarakat mudah tertular penyakit kusta. Penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita Multi Basiler (MB) kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Cara penularan yang pasti belum diketahui, tetapi sebagian besar para ahli berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit Kusta merupakan penyakit yang menyeramkan dan ditakuti oleh karena adanya ulserasi, mutilasi, dan deformitas yang disebabkannya, sehingga menimbulkan masalah sosial, psikologis, dan ekonomis. Keluarga dan masyarakat beranggapan bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang menular dan sulit untuk disembuhkan. Sehingga dalam penanganan dan penyembuhannya membutuhkan jangka waktu yang lama minimal 6 bulan sampai 1 tahun. Oleh karena itu harus melibatkan anggota keluarga untuk mendorong dan membantu penderita agar tidak merasa jenuh dan putus asa dalam perawatan dan pengobatan. Jika keluarga tidak memberi dukungan dan membantu penderita dalam proses penyembuhannya serta ketidaktahuan dari keluarga tentang kusta maka penderita akan merasa rendah diri dan terkucil dengan sendirinya.

Keterlibatan semua pihak termasuk anggota keluarga, dalam program pencegahan penularan kusta sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah kusta. Dengan pencegahan penularan salah satunya dengan cara pengobatan sejak dini dan teratur sehingga dapat sembuh tanpa cacat. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan secara berkala pada penderita kusta, keluarga, serta masyarakat luas. Sehingga dapat meningkatkan motivasi keluarga dalam membantu pasien selama masa penyembuhan dan dapat mendukung pasien untuk segera sembuh dan memiliki sikap hidup yang sehat dan juga melakukan pengobatan secara dini dan tepat waktu.